Friday, August 17, 2018

The Keys

Aku merasa beruntung bisa bersahabat dengan banyak orang, karena dengan begitu aku bisa melihat banyak sekali jenis personalities dan mendengar banyak pikiran dari orang yang berbeda-beda.

By the way this is a post about ones of so many close friends in my life ya



Aku punya 2 peer groups dengan 2 personalities general yang beda jauh, I love them the same and I am so proud to have them. 
Menarik sih buatku bagaimana mereka sangat berbeda satu sama lain tapi aku selalu bisa merasa cocok dan fit tanpa harus berubah menjadi orang lain hanya untuk berbaur dengan mereka. 

Peer group pertama: isinya cewe semua, cantik-cantik, looks girly but aslinya not really, no border between us like literally no border dalam hal apapun, very much understanding and easy to talk to, supportive and the jokes are sometimes hardcore 
Peer group kedua : isinya cewe sama cowo, the people are fun to be around with, not really open to each other but it's still awesome, always relate problems to something logic, very open minded and critical

I mean, isn't it awesome to be me? To be surrounded by people who are so different but still in sync with you?

Biasanya, orang kalau berteman ya setipe gitu gasih? Not literally sama tapi masih setipe, tapi mereka itu beda banget tipenya dan tau gak kenapa aku tetep bisa get along sama keduanya? 
YAS  it is because we respect each other as friends!
We accept each other, we care for eachother, and we appreciate each other

Respect, care, appreciation, acceptance are the keys. 
I have met lots of people and they ended up being my enemies or just being "somebody I dont want  to talk to". Why? Well because the relationships that we had were lack of those keys, atau lebih tepatnya kita ga cocok satu sama lain. Aku tipe orang yang kalau memang tidak bisa akrab ya gak akan aku paksain, ga ada basa-basi I don't like it I leave it. I mean I always try my best to make people feel comfortable around me, tapi kalau mereka dan aku sama-sama tidak nyaman dengan kehadiran masing-masing, ya apa mau dikata tinggalin aja gasih? Life is too short to be spent  with the wrong people 
(They're wrong for me, and I am no right for them either)


Untuk bersahabat dengan banyak orang itu mudah, all we need are the keys


Saturday, May 12, 2018

It's My Body, I Decide

Aku suka ga paham sama orang yang hobi becandaan ngatain fisik orang lain seperti
"Muka babu lo"
"Yee dasar si kribo"
"Woy gajah dietlah"
Dan lain-lain, aku ga ngerti aja kenapa orang melakukan itu apalagi kalau alesanya "becandaan". Aku ga ngerti karena menurutku ga ada lucu-lucunya tuh.

Ada orang pernah bilang sama aku kalau aku terlalu sensitif dengan hal-hal seperti itu
"Orang lain aja ga marah kalo dibecandain gitu, kamu baperan".
Terus aku mikir, ya so? Kalau aku baper kamu ngatain fisiku emang kenapa? Ini akn badanku yang kamu bicarakan, ya aku juga yang memutuskan buat menganggap kata-katamu itu lucu atau enggak kan? Kalau kamu mau semua orang terhibur tanpa ada yang tersakiti, kenapa tidak kamu buat dirimu sendiri sebagai bahan olok-olok?

Kemudian ada lagi, seorang pria seksis berkata
"Kamu cewek sih, jadi terlalu peduli sama hal-hal yang menyinggung fisik kalo cowok sih bodo amat"
Untunglah aku ini cewek ya jadi aku masih pakai akal dan pikiran untuk menghargai diriku sendiri seperti apapun bentuknya dan masih tidak rela kalau orang nyacat tubuh berhargaku, macam Nabi Yusuf aja berasa yang paling sempurna terus ngatain orang.

Intinya adalah, untuk apasih ngatain fisik seseorang di depan muka mereka? Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dirubah lagi.
Becandaan bisa banget pakai kata-kata atau topik tertentu, sangean bener sih ngamatin badan orang lain sampe dapet kekuranganya terus buat bahan nyacat.


Post ini dibuat karena terinspirasi dari kata-kata seorang sahabat; 
Inikan tubuhmu, kamu yang berhak bilang kalau kamu suka atau tidak

Saturday, January 27, 2018

Personal Opinion on "High School is Better than College"

Because there are a lot of people who get offended about basically everything I write, I am here to tell that you have to read CAREFULLY to avoid any misunderstandings between you and I, okay? I am very open for critics (I mean nobody's perfect, I may make any mistakes) but it has to be "make sense". 
Menanggapi kritik yang muncul karena salah paham (yang lahir dari kurang teliti dalam membaca atau kegagalan menarik kesimpulan dari premis yang ada) is such a waste of time, so no honey I am not going to do that.



Masa-masa SMA gue emang banyak pait-nya, mungkin ini juga yang memengaruhi opini gue.
Hari pertama masuk kelas X aja ada bocah, yang gue gatau dari mana asalnya dan ga pernah ngobrol sama gue sebelumnya, ngomong ke orang yang sampe sekarang malah jadi sahabat karib gue
"Kasian banget sih kamu, yang sabar aja ya duduk sama Amel dia kan nyebelin banget". Tawain aelah
Bisa dibayangin gimana dramanya kehidupan gue pada masa-masa tersebut.

Meskipun sebenernya ada juga sih hal menyenangkan dan ngangenin, tetep sih gue prefer kuliah daripada SMA.


Kenapa?
1. Gue dapet jurusan kuliah yang menarik, dan gue suka belajar hal yang menurut gue menarik. Emang sih tugasnya susah dan banyak tapi alhamdulillah ga sampe pada titik gue stress. Dulu pas SMA gatau kenapa malah tekananya lebih berat.
2. Di kampus orang-orangnya udah dewasa jadi less-drama (well ga semua sih), dan lagi gue beruntung karena semuanya baik dan perhatian sama temen-temenya dalam kata lain tingkat 'empati' nya lebih tinggi.
3. I have full control of myself and my grade. Kalo gue lengah ya ancur, kalo gue berjuang ya hasilnya memuaskan, di situ yang seru. Kuliah harus lebih mandiri, dan justru gue suka the lack of control from others.
4. Liburnya banyak, jadi gue bisa melakukan sesuatu untuk nambah pengalaman or simply enjoying the time passes. Dulu jaman SMA gue selalu bercita-cita "Enak kali ya rasanya gada tugas sebulan, kerjanya ngelakuin hal yang lu suka doang", well... I am now technically living my own dream kan?
5. Gue sekolah di kampus yang gue pinginin dari TK so basically I am living my dream (again)
6. Gue punya temen yang baik-baik, supportive, dan seru tapi tetep ambis dalam akademik (what a great combination, right?)
7. Ga tiap hari gue bisa kumpul sama keluarga, jadi ketika liburan dan gue bisa di rumah sama Nyokap gue bener-bener mensyukuri setiap detiknya dan bahagia, bahkan lebih dari saat gue SMA which is tiap hari ketemu. Kangen diobatin enak banget kan rasanya?
8. Gue jauh dari orang-orang yang gue gasuka/gasuka sama gue. Jadi gue hidup dalam kedamaian tanpa toxic (ga 100% juga sih)
9. I can express myself thru almost everything (chill nothing bad like weeds or drugs)


Gue belum pernah denger di kehidupan nyata baik dari temen, saudara, keluarga, sahabat, kerabat, kalau mereka prefer SMA daripada kuliah. Tapi kalo emang ada yang mikir kaya gitu, mungkin saran gue adalah cari temen yang seru, ikut kegiatan yang bikin lo ga bosen, bersyukur masih bisa kuliah (stop complaining seriously), dan yang paling penting adalah pastikan diri sendiri bahwa lo udah mauk ke jurusan yang emang lo suka, buat diri lo sendiri merasa bahagia dan senang mempelajari apapun yang diberikan dosen; kalau emang ternyata lo gasuka ya ngapain dipaksa? (Pengalaman pribadi gue kurang suka sama jurusan kuliah yang gue ambil sebelumnya jadi gue memutuskan untuk pindah, and yes I am happy because I did it!)

Semoga buat para mahasiswa yang masih suka nakut-nakutin anak SMA yang mau masuk kuliah by saying those words menemukan hal menyenangkan dalam kehidupan kuliah.
Mwaaa

Friday, January 26, 2018

Cara Masuk Univ Favorite

In this case universitas favorite incaran gue adalah UI. Karena gue bukan anak yang pinter-pinter banget atau anak yang kalo gabut terus belajar, menurut gue untuk masuk UI itu susah banget dan penuh penderitaan. Banyak banget yang harus dikorbanin, tapi setelah lo keterima dan sah jadi mahasiswa kampus favorite lo, semuanya terbayar, trust me it's worth it. Di sini gue mau share aja cara-cara yang gue lakuin sebagai anak lulusan SMA dengan nilai Ekonomi UN 6 dan kapasitas otak layaknya komputer pentium 1. Oke gue share aja ya

  • Cari banyak informasi tentang jalur apa aja buat masuk universitas yang lo incer. Ada SNMPTN, SBMPTN, UM, seleksi prestasi,  atau lainya. Biasanya sih tiap-tiap universitas punya kebijakan sendiri buat menentukan jalur apa aja yang mereka buka. Kaya UI misalnya, dia buka jalur PPKB (yang kalo setau gue) buat seleksi rapot SMA anak-anak yang mau masuk UI kelas paralel dan jenjang vokasi. Jangan sampe lo nglewatin satu jalur aja hanya karena lo gatau, soalnya sayang banget ituuuu :(
  • Jangan berharap banyak sama SNMPTN, karena kalo lo anak biasa-biasa aja it's almost impossible buat dapet SNMPTN, apalagi kalo lo gadisukain guru-guru beeuh nilai mah bisa dimanipulasi banget banget men (pengalaman ya dulu gue sempet ada masalah sama guru Bahasa Inggris gue, terus nilai gue di rapot dijeblokin padahal jaman SMA nilai bahasa Inggis gue selalu diatas 8, dan pas gue minta transkrip nilai doi cuma bisa cengo), jadi jangan lega kalo udah daftar SNMPTN. Harus tetep berdoa dan belajar buat ujian masuk kuliah
  • Karena di jaman gua SMA itu nilai UN udah ga ada pengaruhnya untuk kelulusan jadi gue punya mindset "UN ga penting", jadi gue fokuskan untuk belajar buat ujian masuk universitas yang emang udah gue incer. Jadinya lo punya banyak waktu dan lebih siap sama soal-soal SBMPTN dan kawan-kawan-nya itu. Toh juga selama ini gue kuliah gapernah loh ditanya "Nilai UN lo berapa?" which means UN itu gausah dikejar banget deh (INI MENURUT GUE AJA SIH YA).
  • Tau diri. Kenali kemampuan lo, apakah lo pinter, sedeng, atau di bawah rata-rata. Kalo ada guru lo atau nyokap bokap lo bilang sesuatu yang mengindikasikan bahwa lo gak mampu karena lo bukan orang pinter, jangan baper berarti itu suatu wakeup call buat lo biar tau diri "Ohh gue bego, berarti kalo gue mau ambil jurusan ini di kampus ini, gue harus belajar ekstra nih". Jangan jadiin omongan mereka sebagai acuan yang bikin lo mikir "Gue ga mampu" and then give up before trying. Kayague dulu, emak gue bilang masuk UI terlalu susah buat gue akhirnya gue ga nyoba ikut ujian masuk UI sama sekali dan everyday I regretted it. "Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba sama sekali dan berfikir 'sebenarnya aku mampu ga sih?' " itu motto gue. 
  • Ikut Bimbel. Simple aja sih gue mikirnya karena dengan ikut bimbel, kita jadi tau kemampuan anak-anak lain yang bakal jadi saingan kita masuk univ. Kalo dulu gue ikut bimbel di Nurul Fikri, tau kan? Gue pilih di situ karena motto NF sendiri yang berbunyi "Maju Bersama Allah". Hahaha gadeeeng, gue pilih NF karena disamping murah juga banyak banget testi yang bagus. 
  • Belajar dari bimbel doang ga cukup, BELAJAR PRIVATE DI RUMAH!! Udah gua bilang kan buat masuk kampus favorite itu penuh perjuangan dan penderitaan. Gue gasuka belajar sama sekali, gue literally jadi sakit kepala kalo suruh belajar dan langsung ngantuk pas baca buku, tapi gue tau saingan gue bakalan anak-anak pinter dari seluruh bumi Indonesia jadi gue gaboleh kalah sama rasa males. Lo harus paham cara belajar yang paling ngaruh buat diri lo sendiri. Gue dulu tiap abis bimbel, gue ngafalin materi-materi gitu paling sejam doang trus dilanjut ngerjain soal-soal yang susahnya kaya bkin gue pening sampe paling maksimal 20an nomer, I didn't want to push myself too hard karena gue tau segala yang berlebihan tidak baik :'). Oh iya, dan ini gatau sugesti apa gemana ya setiap gue nemu soal yang susah dan gabisa gue pecahin, soal itu pasti akan muncul again again and again sampe akhirnya gue geuleuh dan berusaha cari cara buat ngesolve soal tersebut. Jadi kalo kalian nemu soal yang ga bisa, jangan di skip ya, nanti pasti bakal ketemu lagi soalnya :(, HARUS DICARI CARANYA SAMPE BISA!!
  • Ketika lo males belajar inget satu hal "Cari kerja sekarang susah, apalagi kalo gua bego"
  • Never forget to always berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Kalo kata gue sih, dengan berdoa itu kita jadi relax pikiranya karena kita tau apa yang kita lakuin ga akan sia-sia karena sudah kita percayakan sepenuhnya pada Tuhan. Nah, kalau kita udah dapet ketenangan batin kita juga belajar jadi enak karena pikiran jernih. Inget ya, di dunia ini tidak ada yang namanya keberuntungan, yang ada hanyalah hasil dari tawaqal dan usaha keras.
  • Belajar (lagi). Dulu gue kerjaanya belajar belajar dan belajar, di kampus gue belajar materi ujian masuk univ, pas waktu senggang mau ganti matkul gue belajar, skip kelas buat belajar, nungguin temen dateng ke rumah gue duduk di teras sambil belajar, di mobil atau angkutan umum gue belajar, dan bahkan ketika gue kongkow di mall sama temen gue belajar (walopun cuma sekedar baca satu atau dua halaman, karena gue paham lah ya ga etis ninggalin orang buat belajar kaya gitu). Ya segitunya pengorbanan gue mengalahkan kebodohan, bahkan gue sering mimpi lagi bimbel atau ujian saking kepikiranya. :')
  • Ketika jenuh, berhentilah sesaat. Kadang pas gue bener-bener fed up gue nelfon nyokap atau temen-temen gue sekedar buat curhat aja. Curhat ya bukan mengeluh, karena percaya atau enggak ketika lo mengeluh semuanya jadi berasa makin berat dan itu malah bikin lo depresi, ingat "semakin dirasa semakin diberi" itulah motto gue untuk survive selama ini. Semuanya pasti akan ada ujungnya kok, dan apapun hasilnya itu bukan akhir dari hidup gue. Ketawa bareng temen sambil makan di KFC atau ngopi-ngopi hits ala-ala di Starbucks always fixed my damaged brain.  
  • Ketika hari H, pastikan semua peralatan tulis dan kartu ujian lengkap. JANGAN TELAT!!! Telat bikin kita ga fokus dan ngejelekin mood :(. Sarapan biar ga kelaperan, minum susu, dan minum air putih yang banyak karena ketika dehidrasi otak gabisa mikir.
  •  Pas ngerjain usahakan lo tetap tenang, cari soal dari mata pelajaran yang paling lo kuasai dan hajar mereka habis-habisan. Mata pelajaran yang lo ga kuasai entaran aja, karena ketika lo liat soal yang susah dan lo ga bisa, itu akan ngancurin mood lo untuk even baca soal-soal selanjutnya (yang mungkin bakalan gampang). Kalo gue dulu pas SIMAK ya (gue cerita SIMAK aja karena gue gagal SBMPTN), gue kan suka banget Bahasa Inggris dan Sosiologi, jadilah gue hajar mereka habis-habisan. Karena gue cukup bisa menyelesaikan soal-soal tersebut gue jadi PD buat lanjut ke soal lain, setelah itu yang paling akhir gue kerjain sih matematika, gue lemah banget jadi pas ngerjain cuma pake ilmu doa aja.

Nah itu dia tips-tips lulus masuk Universitas Idaman berdasarkan pengalaman gue sendiri. Inget ya, ketika mau daftar masuk universitas kece, kalian semua itu ga ada yang bodoh banget dan pinter banget, semua punya waktu dan kesempatan yang sama. Buktinya? Gue yang bagaikan dedaunan kering di SMA ini ujung-ujungnya juga kuliah satu kampus sama temen-temen gue yang dulu SMA nya anak olim banget. Semua tergantung niat, usaha, doa, dan pengorbanan lo ajasih. 
Ketika lo masuk jurusan yang lo harapkan lewat jalur tes, rasanya itu puas banget karena akhirnya penderitaan lo selama ini terbayar :'). 
Okay semoga tips gue bermanfaat ya...

Sunday, January 21, 2018

"Money Can't Buy You Happiness." Eek What a Bullshit

Disclaimer : 
Because there are a lot of people who get offended about basically everything I write, I am here to tell that you have to read CAREFULLY to avoid any misunderstandings between you and I, okay? I am very open for critics (I mean nobody's perfect, I may make any mistakes) but it has to be "make sense". 
Menanggapi kritik yang muncul karena salah paham (yang lahir dari kurang teliti dalam membaca atau kegagalan menarik kesimpulan dari premis yang ada) is such a waste of time, so no honey I am not going to do that.


Pernah mendengar orang berkata "Money can't buy you happiness"? Well, I tell you what, ada 2 kemungkinan yang menyebabkan orang berkata demikian 
1. orang itu tajir dari lahir kaya Rafathar dan belum pernah merasakan pahitnya kehidupan tanpa uang. 
2. orang tersebut kurang bersyukur

Sadar tidak, uang itu membuat hidup kamu 10kali lebih mudah. Mungkin memang tidak lebih mudah dalam segala aspek, tapi cukup mudah hingga pada titik di mana kamu harus merasa bersyukur dan sudah selayaknya kamu menjadi manusia yang "bahagia" atas kemudahan tersebut. 

Pernah bayangin gimana rasanya engga punya uang? Mau makan aja harus jual perabot rumah, mau sekolahin anak harus jual motor, mau punya baju yang 'pantes' harus nunggu dikasih, kalau sakit cuma bisa pasrah dan berdoa karena tidak punya biaya untuk berobat atau sekedar membayar transportasi ke RS/Dokter, rumah kurang layak dan atapnya bocor tapi tidak ada biaya untuk reparasi. 

Hidup kamu jadi susah kalau tidak punya uang, di sini aku bukan ingin mengagung-agungkan uang ya, tapi sungguh, betapa angkuhnya seseorang yang berkata bahwa uang tidak dapat membuat bahagia! 
Tidakkah kamu bahagia atas kemudahan yang dapat kamu peroleh dengan uang? Tidak bahagia kah kamu bisa membeli makanan, mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan bahkan mampu membeli barang yang sebenarnya ga dibutuhin? Memangnya kamu tidak bahagia ketika kamu tidak perlu melacur/mengemis/mencuri ketika butuh uang untuk makan? Masih kurang membahagiakan-kah ketika kamu bisa berbagi dengan orang yang kurang mampu sebab rezeki-mu lebih? 

Sebenernya kalau itu semua tidak bisa membuatmu bahagia, lalu apalagi yang kamu minta? Diberi kehidupan mudah kok masih merasa susah. Uang adalah salah satu bentuk rezeki yang pantas disyukuri, bersyukur membuat kita menyadari betapa seharusnya kita berbahagia atas apa yang diberikan Tuhan.

"Terimakasih Tuhan, hari ini aku bisa makan" adalah salah satu bentuk rasa syukur yang kalo dipikir "Iyaya, aku harus bahagia karena masih bisa makan"


Pandai-pandailah ber empati dan bersyukur, karena ketika kamu merasakan penderitaan orang lain dan bersyukur atas apa yang kamu miliki kamu akan tahu bahwa happiness comes in any shape, size, and form.

Memang tidak semua kebahagiaan berasal dari uang, tapi muna banget kalo bilang uang tidak membuat bahagia :')

Wednesday, January 10, 2018

Picky

Disclaimer : 
Because there are a lot of people who get offended about basically everything I write, I am here to tell that you have to read CAREFULLY to avoid any misunderstandings between you and I, okay? I am very open for critics (I mean nobody's perfect, I may make any mistakes) but it has to be "make sense". 
Menanggapi kritik yang muncul karena salah paham (yang lahir dari kurang teliti dalam membaca atau kegagalan menarik kesimpulan dari premis yang ada) is such a waste of time, so no honey I am not going to do that.


I am a very picky person in making friends, and I am 100% percent sure that everybody should do the same. 
I had a very rough teenage life, and that kind of life makes me realize that I SHOULD BE really picky in making friends. 

This is not only about "My bff dates my ex" kind of crime, this is about how I chose the wrong person to believe and caused me to hate my-self, feeling unwanted, low self-esteem, and even depressed my whole teenage period.

Pertama-tama aku mau bilang bahwa kamu tidak perlu picky berteman dengan orang yang memiliki kualifikasi seperti populer, tajir melintir, pinter, cantik/ganteng, bermobil atau bermotor, dll. Babe, konteks picky di sini adalah "Pilihlah teman yang bisa mendukungmu, membuat-mu berani dan percaya diri, mau menolong-mu, menghargai dirimu sebagai seorang manusia, dan membawa dirimu menjadi manusia yang lebih baik"

There are always stories behind every thought, and this is mine. 

 ***

Kamu tahu bahwasanya kamu harus berhati-hati dengan orang yang menurutmu paling "nyaman" diajak curhat? Jenis orang yang akan membuat kamu mendengarkan semua perkataan mereka karena kamu pikir "Ya, orang ini tahu perasaanku dengan baik"atau "OMG That is so me!". 
Kenapa harus berhati-hati? Karena ketika kita percaya dan nyaman dengan seseorang maka segala sesuatu yang mereka katakan terasa benar dan real, at least that's what I felt back in my teenage years. 
Aku enggak bilang bahwa orang yang enak diajakin curhat itu akan brainwash ya, aku cuma bilang bahwa kita cenderung akan lebih mendengarkan perkataan orang-orang yang kita percaya, maka berhati-hatilah karena apa yang mereka bilang terkadang tidak sepenuhnya benar. 
Nah, ketika kamu sial seperti aku orang-orang yang kamu percaya justru menggunakan kepercayaan untuk menjatuhkan diriku yang malang ini. 

Dulu aku pernah kenal seseorang yang jago banget bikin aku feeling insecure dengan bertingkah seakan-akan dia paham kondisiku kemudian menggunakan kelemahan ku untuk menjatuhkan aku se dalam-dalamnya. Gatau kenapa, dulu aku merasa orang ini tuh cuma "being honest" tapi sekarang aku paham kalau tidak satupun kata-katanya adalah benar, dan dia bersikap seperti itu semata-mata karena dia ingin membuat aku merasakan apa yang dia rasakan (I know, what a psycho!). 
Ketika aku sedih dan ragu, dia bakalan nyemangatin aku, bukan nyemangatin untuk merasa lebih baik, tapi nyemangatin untuk semakin percaya bahwa akutuh sangat sangat unwanted, worthless, deserves nothing good, dan ugly piece of shit. 
Sebagai contoh aja, kata-kata dan opini dari orang ini sepert; 
"Dia tuh *insert mean words about physical appearance here* tapi jauh lebih mending dia daripada kamu" (jadi maksud dia akutuh jauh lebih parah daripada orang yang MENURUT dia jelek)
"Yah, kamutuh emang ga jelek tapi ga cantik. Mending kamu oplas" (gausah dijelasin, jelas nyakitin)
"Dia (my crush) muji kamu? Hahaha fix sarkas. Kamu tuh engga sebagus itu tau" (yeah like I didn't even deserve a true compliment)
"Aku sering kok diajak jalan sama mereka, kayanya cuma kamu aja yang engga pernah. Ya mereka kan maunya main sama anak yang seru sama cantik doang" (Oh jadi lo mau bilang kalo lo cakep seru asik gaul sedangkan gue cuma seonggok daging cupu jelek dan ga pantes diajak jalan?)
"Ya aku juga sedih sih kalo jadi kamu, semua orang tuh ngomongin kamu tau, dan jelek-jelekin foto kamu juga" (Thanks for making me feel like people hate me when they actually dont)
Dia selalu bilang hal buruk tentang aku, orang lain, dan segalanya yang enggak ada di pikiran aku sebelumnya.
Meanie...
Dan parahnya akutuh percaya aja sama omongan sampah kaya gitu, aku dulu jadi minder banget tiap hari nangis dan ngebatin 'Kenapa ya aku diciptakan sejelek ini', benci sama diri sendiri, takut berteman sama orang baru, ga berani ngapa-ngapain untuk melangkah maju, dan bahkan aku sempat punya kebiasaan mikir "Sarkas ya?" setiap kali aku dipuji sama orang. Aku juga jadi sensi dan baper sama orang lain, iri dan pendengki, jadi suudzon, merasa ditinggalkan dan merasa ga diinginkan (which is totally wrong). 
Impact nya tuh sampai segitunya.

Aku juga salah sih, harusnya aku bisa ngefilter omongan yang kurang baik dan tetep percaya diri, tapi "A lie told often enough becomes the truth." - Vladimir Lenin . Exactly, ketika kamu sebenernya tahu suatu hal itu tidak benar, namun kamu terus-terusan dicekokin kebohongan yang sama, mau ga mau kamu jadi merasa hal itu benar, right? Apalagi untuk remaja yang gifted by feeling everything more intense than anyone else kaya aku dulu, entah kenapa hal negative akan lebih aku percaya daripada yang positif

Semakin aku dewasa, aku dipertemukan dengan teman-teman yang sangat supportive. Mereka casually memberikan aku pujian atas hal-hal sepele seperti 
"Bajunya baru ya? Lucu banget"
"Kamu jago nyatokin rambut deh" 
sampai hal yang luar biasa kaya 
"Kamu itu adalah temen aku yang paling baik, aku seneng jadi sahabat kamu"
"Aku bangga sama kamu, Mel. Doaku menyertaimu"
dan ternyata hal kaya gini tuh bikin self-esteem ku mulai meningkat. Mereka memberikan dukungan atas setiap langkah yang aku ambil baik dalam bentuk doa, saran, kritik, dan bahkan pertolongan. They listen to me, they encourage me to have a better vision of myself and others, dan mereka berhasil membuat aku menyayangi diriku sendiri. 
Secara personal, dampak dari memiliki teman yang baik membuat diriku terbebas dari rasa minder  dan kebiasaan self-hating. Aku tahu bahwasanya aku diinginkan, bahwa I am beautiful the way I am, aku merasa bahagia karena aku disayangi, AKU TAHU AKU BERHARGA. Suddenly my life becomes way better and I am way happier. 

*** 

Teman-teman ku berasal dari berbagai background, personality, sex orientation, ses, dan jenis kelamin. Mereka semua berbeda satu sama lain, tapi mereka sama pada satu hal yaitu mendukung dan menghargai aku sebagai teman. 
Ketika kamu merasa tidak bahagia, mungkin kamu berada di circle pertemanan yang salah, mungkin kamu belum punya seseorang yang bisa mengingatkan-mu untuk bersyukur dan berbahagia atas karunia Tuhan. 
Aku senang dan bahagia sekali atas rezeki dari Allah yang berupa teman-teman ku yang baik, bagiamapun juga, mereka memiliki peran penting dalam proses belajar mencintai diri sendiri dan untuk selalu berprasangka baik dengan orang lain. 

Aku harap semua orang menemukan teman sejati yang bisa membuat mereka berbahagia dan mendorong mereka menjadi pribadi yang lebih baik. 


Friday, November 17, 2017

QOTD

"Menjadi manusia pemalas adalah hal buruk, tapi jadi partner kerja orang pemalas adalah hal yang lebih buruk " - Amel, mahasiswi