Wednesday, January 10, 2018

Picky

Disclaimer : 
Because there are a lot of people who get offended about basically everything I write, I am here to tell that you have to read CAREFULLY to avoid any misunderstandings between you and I, okay? I am very open for critics (I mean nobody's perfect, I may make any mistakes) but it has to be "make sense". 
Menanggapi kritik yang muncul karena salah paham (yang lahir dari kurang teliti dalam membaca atau kegagalan menarik kesimpulan dari premis yang ada) is such a waste of time, so no honey I am not going to do that.


I am a very picky person in making friends, and I am 100% percent sure that everybody should do the same. 
I had a very rough teenage life, and that kind of life makes me realize that I SHOULD BE really picky in making friends. 

This is not only about "My bff dates my ex" kind of crime, this is about how I chose the wrong person to believe and caused me to hate my-self, feeling unwanted, low self-esteem, and even depressed my whole teenage period.

Pertama-tama aku mau bilang bahwa kamu tidak perlu picky berteman dengan orang yang memiliki kualifikasi seperti populer, tajir melintir, pinter, cantik/ganteng, bermobil atau bermotor, dll. Babe, konteks picky di sini adalah "Pilihlah teman yang bisa mendukungmu, membuat-mu berani dan percaya diri, mau menolong-mu, menghargai dirimu sebagai seorang manusia, dan membawa dirimu menjadi manusia yang lebih baik"

There are always stories behind every thought, and this is mine. 

 ***

Kamu tahu bahwasanya kamu harus berhati-hati dengan orang yang menurutmu paling "nyaman" diajak curhat? Jenis orang yang akan membuat kamu mendengarkan semua perkataan mereka karena kamu pikir "Ya, orang ini tahu perasaanku dengan baik"atau "OMG That is so me!". 
Kenapa harus berhati-hati? Karena ketika kita percaya dan nyaman dengan seseorang maka segala sesuatu yang mereka katakan terasa benar dan real, at least that's what I felt back in my teenage years. 
Aku enggak bilang bahwa orang yang enak diajakin curhat itu akan brainwash ya, aku cuma bilang bahwa kita cenderung akan lebih mendengarkan perkataan orang-orang yang kita percaya, maka berhati-hatilah karena apa yang mereka bilang terkadang tidak sepenuhnya benar. 
Nah, ketika kamu sial seperti aku orang-orang yang kamu percaya justru menggunakan kepercayaan untuk menjatuhkan diriku yang malang ini. 

Dulu aku pernah kenal seseorang yang jago banget bikin aku feeling insecure dengan bertingkah seakan-akan dia paham kondisiku kemudian menggunakan kelemahan ku untuk menjatuhkan aku se dalam-dalamnya. Gatau kenapa, dulu aku merasa orang ini tuh cuma "being honest" tapi sekarang aku paham kalau tidak satupun kata-katanya adalah benar, dan dia bersikap seperti itu semata-mata karena dia ingin membuat aku merasakan apa yang dia rasakan (I know, what a psycho!). 
Ketika aku sedih dan ragu, dia bakalan nyemangatin aku, bukan nyemangatin untuk merasa lebih baik, tapi nyemangatin untuk semakin percaya bahwa akutuh sangat sangat unwanted, worthless, deserves nothing good, dan ugly piece of shit. 
Sebagai contoh aja, kata-kata dan opini dari orang ini sepert; 
"Dia tuh *insert mean words about physical appearance here* tapi jauh lebih mending dia daripada kamu" (jadi maksud dia akutuh jauh lebih parah daripada orang yang MENURUT dia jelek)
"Yah, kamutuh emang ga jelek tapi ga cantik. Mending kamu oplas" (gausah dijelasin, jelas nyakitin)
"Dia (my crush) muji kamu? Hahaha fix sarkas. Kamu tuh engga sebagus itu tau" (yeah like I didn't even deserve a true compliment)
"Aku sering kok diajak jalan sama mereka, kayanya cuma kamu aja yang engga pernah. Ya mereka kan maunya main sama anak yang seru sama cantik doang" (Oh jadi lo mau bilang kalo lo cakep seru asik gaul sedangkan gue cuma seonggok daging cupu jelek dan ga pantes diajak jalan?)
"Ya aku juga sedih sih kalo jadi kamu, semua orang tuh ngomongin kamu tau, dan jelek-jelekin foto kamu juga" (Thanks for making me feel like people hate me when they actually dont)
Dia selalu bilang hal buruk tentang aku, orang lain, dan segalanya yang enggak ada di pikiran aku sebelumnya.
Meanie...
Dan parahnya akutuh percaya aja sama omongan sampah kaya gitu, aku dulu jadi minder banget tiap hari nangis dan ngebatin 'Kenapa ya aku diciptakan sejelek ini', benci sama diri sendiri, takut berteman sama orang baru, ga berani ngapa-ngapain untuk melangkah maju, dan bahkan aku sempat punya kebiasaan mikir "Sarkas ya?" setiap kali aku dipuji sama orang. Aku juga jadi sensi dan baper sama orang lain, iri dan pendengki, jadi suudzon, merasa ditinggalkan dan merasa ga diinginkan (which is totally wrong). 
Impact nya tuh sampai segitunya.

Aku juga salah sih, harusnya aku bisa ngefilter omongan yang kurang baik dan tetep percaya diri, tapi "A lie told often enough becomes the truth." - Vladimir Lenin . Exactly, ketika kamu sebenernya tahu suatu hal itu tidak benar, namun kamu terus-terusan dicekokin kebohongan yang sama, mau ga mau kamu jadi merasa hal itu benar, right? Apalagi untuk remaja yang gifted by feeling everything more intense than anyone else kaya aku dulu, entah kenapa hal negative akan lebih aku percaya daripada yang positif

Semakin aku dewasa, aku dipertemukan dengan teman-teman yang sangat supportive. Mereka casually memberikan aku pujian atas hal-hal sepele seperti 
"Bajunya baru ya? Lucu banget"
"Kamu jago nyatokin rambut deh" 
sampai hal yang luar biasa kaya 
"Kamu itu adalah temen aku yang paling baik, aku seneng jadi sahabat kamu"
"Aku bangga sama kamu, Mel. Doaku menyertaimu"
dan ternyata hal kaya gini tuh bikin self-esteem ku mulai meningkat. Mereka memberikan dukungan atas setiap langkah yang aku ambil baik dalam bentuk doa, saran, kritik, dan bahkan pertolongan. They listen to me, they encourage me to have a better vision of myself and others, dan mereka berhasil membuat aku menyayangi diriku sendiri. 
Secara personal, dampak dari memiliki teman yang baik membuat diriku terbebas dari rasa minder  dan kebiasaan self-hating. Aku tahu bahwasanya aku diinginkan, bahwa I am beautiful the way I am, aku merasa bahagia karena aku disayangi, AKU TAHU AKU BERHARGA. Suddenly my life becomes way better and I am way happier. 

*** 

Teman-teman ku berasal dari berbagai background, personality, sex orientation, ses, dan jenis kelamin. Mereka semua berbeda satu sama lain, tapi mereka sama pada satu hal yaitu mendukung dan menghargai aku sebagai teman. 
Ketika kamu merasa tidak bahagia, mungkin kamu berada di circle pertemanan yang salah, mungkin kamu belum punya seseorang yang bisa mengingatkan-mu untuk bersyukur dan berbahagia atas karunia Tuhan. 
Aku senang dan bahagia sekali atas rezeki dari Allah yang berupa teman-teman ku yang baik, bagiamapun juga, mereka memiliki peran penting dalam proses belajar mencintai diri sendiri dan untuk selalu berprasangka baik dengan orang lain. 

Aku harap semua orang menemukan teman sejati yang bisa membuat mereka berbahagia dan mendorong mereka menjadi pribadi yang lebih baik. 


No comments:

Post a Comment